Friday, January 26, 2007

Heaven's Soldiers


Entah kenapa, dari dulu, gue adalah penggemar film perang. Perang memang tidak berprikemanusiaan. Tetapi dari situlah kita sebenarnya bisa melihat sisi-sisi kemanusiaan yang tersembunyi dalam kekejaman perang.


Banyak judul2 film perang yang jadi favorit gue dengan beragam tema. Setelah berkenalan dengan film Korea, gue langsung punya tiga film perang favorit. Salah satunya adalah Heaven’s Soldiers ini.


Bagi Korea Selatan, mereka sampai sekarang masih berada di bawah ancaman perang karena keterpisahannya dengan Korea Utara dan kemauan untuk ’rujuk’ kembali nyatanya tak mudah di wujudkan. Bagi insan perfilman disana, tema Selatan-Utara ini jadi salah satu tema favorit mereka untuk di garap sebagai satu film.


Sebelum nonton Heaven’s Soldiers, gue pernah nonton Welcome to Dongmakgol yang juga bercerita tentang Utara-Selatan yang ’terpaksa’ bekerjasama demi mempertahankan satu kebangsaan mereka. Tetapi, Heaven’s Soldiers ini terasa lebih kepada penggabungan unsur fiktif yang kental, sejarah dan kebanggaan terhadap pahlawan bangsa, serta teknologi yang terlalu canggih.


Cerita dimulai dari rencana Utara yang mau ’nyolong start’ perang duluan dengan menculik salah satu ilmuwan dari Selatan (ilmuwan perempuan ini diperankan oleh Kong Hyo Jin) untuk membantu mereka soal senjata pemusnah massal yang sudah mereka rakit dan mereka simpan. Sebelum sempat sampai ke Utara, prajurit dari Selatan memergoki mereka di atas perahu kecil di tengah sungai di DMZ (Demiliterized Zone). Keadaan mendesak itu membuat prajurit dari Selatan bernama Park Jeong Woo (diperankan oleh Hwang Jung Min) berada dalam satu perahu bersama ilmuwan, serta seorang tentara dari utara bernama Kang Min Gil (diperankan oleh Kim Seung Woo). Sebelum Park Jeong Woo sempat membebaskan ilmuwan itu dari sekapan tentara utara, sebuah comet misterius melintas di atas langit. Siapa yang menyangka, comet misterius itu membawa mereka ke dimensi waktu ratusan tahun yang lalu.


Kedua prajurit dari Utara dan Selatan masih saling ’nyolot2an’ ketika mereka menyadari bahwa mereka terdampar di masa lampau. Sampai ketika mereka bertemu dengan seorang laki-laki muda yang ’biasa’ aja (diperankan oleh Park Joong Hoon). Jeong Woo dan Min Gil akhirnya mengenali lelaki itu sebagai salah satu pahlawan Korea ketika ia masih muda. Dengan bantuan kedua prajurit ini, laki2 biasa ini berubah menjadi seorang panglima perang yang luar biasa.


Ancaman perang kemudian datang dari bangsa Mongol. Panglima ini dan kedua anak buahnya dari masa depan, mulai menyusun strategi. Sementara ilmuwan wanita yang juga terjebak di masa lalu ini berhasil menemukan cara untuk kembali ke masa yang seharusnya.

Live Good

Dalam memlilih film, ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi keputusan gue untuk menontonnya/nggak. Faktor pendorong gue saat membeli film ini adalah sang aktris yang udah ga diragukan lagi penampilannya.

Kim Jeong-eun (pernah main di Lovers in Paris, Princess Lulu, All About Eve, Blossom Again, dan Marrying the Mafia) berperan sebagai Hyun-joo, seorang pekerja dari departemen kesehatan. Hyun-joo bertugas untuk memberi penyuluhan tentang pentingnya memiliki keluarga kecil. Tugas ini diembannya karena pada tahun 1970-an (film ini mengambil setting tahun 70an), angka kelahiran di Korea tinggi sekali sementara tingkat pertumbuhan ekonomi masih rendah. Akibatnya, banyak desa-desa tertinggal yang penduduknya hidup miskin dengan beban anak-anak yang banyak.

Hyun-joo yang belum pernah menikah, menjadi penyuluh di sebuah desa Yongdu yang miskin. Penduduk setempat awalnya tidak bisa menerima Hyun-joo dan doktrinnya untuk menurunkan angka kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi demi kehidupan yang lebih layak. Tetapi berkat keuletannya, satu persatu penduduk desa mulai mau mendengarkannya. Dibantu dengan seorang penduduk bernama Suk-gu (diperankan oleh Lee Beom-soo), mereka menggalakkan program “0% Birth Rate Project“ sebagai salah satu pilot project (proyek uji coba) yang langsung diawasi oleh presiden.

Film ini terasa sangat real, karena ada unsur2 kepercayaan turun-temurun yang sama dengan di Indonesia, yaitu, ’Banyak anak, banyak rezeki’. Juga menampilkan kepolosan penduduk yang tidak tahu apa2 tentang alat kontrasepsi tanpa harus terlihat bodoh.

Pada akhirnya, kompleksitas tradisi, profesionalisme, dan mahalnya sebuah janji serta komitmen, ikut menjadi masalah yang diangkat dalam film ini.

Seperti juga program KB kita dulu yang terbilang berhasil (tapi sekarang gaungnya udah menghilang...), Korea pun berhasil menekan angka kelahiran penduduknya. Malah sekarang, ketika mereka sudah maju pesat, program itu berubah haluan menjadi program meningkatkan angka kelahiran, karena penduduk usia produktif untuk masa depan di Korea semakin sedikit. Hmmph... banyak anak salah... sedikit juga salah...

Fly High


Satu lagi film yang promosinya gue liat langsung ketika ada di Korea. Judul koreanya “Saranghanikka, kwenchana...“ (artinya: If it’s love, it’s okay) Di Seoul, promosi film ini gila2an... bisa dibilang, gue berkali2 liat iklan di badan bus, di billboard, dan di tembok stasiun subway yg gede banget. Udah gitu gambarnya provokatif banget sampe akhirnya gue memutuskan untuk mastiin apakah itu film dan apa arti judulnya sama Dain.


Sampe sini, baru ngeh ternyata Fly High yang gue pinjem dari Heidy adalah judul lain dari “Saranghanikka,kwenchana...“ yang gue liat itu.


Film ini di perankan oleh Ji Hyun-woo (baru2 ini terkenal lewat serial ’Over The Rainbow’) sebagai Min-hyeok yang jatuh cinta sama seorang cewe di sekolahnya. Sebenernya ceritanya standar aja, dua orang saling jatuh cinta tetapi ujung2nya mereka dihadapi oleh kenyataan tentang salah satu dari mereka. Karena itulah, film ini di beri judul “Saranghanikka, kwenchana..“ karena, apapun yang terjadi, kalau memang itu cinta, maka semua akan baik2 aja.


Akhirnya, ending yang sedih dikemas ‘baik2’ aja sama Kwak Ji Kyun sebagai sutradaranya.


Buat gue, film ini masih kalah kesannya daripada beberapa film sedih yang pernah gue tonton. Terbukti, toh gue ga menitikkan setetes airmatapun..hehehe..

Fly Daddy Fly


Fly Daddy, Fly.. sebenernya film ini gue beli bareng2 dengan film2 laen yang gue borong waktu kalap abis selese uas, hehe. Alesan utamanya adalah karena salah satu pemain utamanya adalah Lee Joon-ki, seorang roockie yang bermain sangat oke.


Film ini gue tinggalin gitu aja, maksudnya, gue simpen dulu, sementara gue nonton film lain yang gue pikir lebih oke.


Akhirnya, baru aja gue selese nonton Fly Daddy Fly. Selama perjalanan film, gue senyam-senyum, ketawa geli, terhenyak terharu, sampe melotot kagum karena fighting scene-nya keren. Agak sulit menjelaskan genre film ini. Drama tapi laga tapi komedi.


Ceritanya begini… seorang bapak biasa bernama Go Pil (yang akhirnya dipanggil Jjang) yang diperankan oleh Lee Moon Shik merasa ‘ga berguna’ karena ga bisa melindungi anak perempuannya yang mengalami kekerasan oleh siswa laki2 bernama Tae Wok. (Banci banget tuh cowo, mukulin cewe sampe babak belur…). Tae Wok yang mukulin anaknya itu udah dateng ke rumah sakit untuk ‘minta maaf’ dengan seadanya, dan keesokannya memberi uang simpati buat bapak itu. Merasa dilecehkan, si bapak dateng ke sekolah Tae Wok sambil bawa pisau. Bukannya ketemu Tae Wok, dia malah di pukul sama siswa cowo lain bernama Seung Sok (Lee Joon-ki). Seung Sok ga bermaksud jahat, dia malah bingung kenapa bapak ini pake bawa2 pisau segala kalau mau ngadepin Tae Wok (yang ternyata jawara boxing).


Akhirnya, dengan dorongan temen2 Seung Sok, si bapak pun mengikuti training. Trainer-nya ya, si Seung Sok itu. Bapak ini usaha mati2an, latihan sampe babak belur demi untuk membalas perbuatan Tae Wok di ring boxing.


Bagi Seung Sok, usahanya dalam melatih bapak ini ga lain adalah karena ia, yang dari kecil udah di tinggal bapaknya kabur, berharap suatu saat nanti, bapak ini akan jadi pelindungnya.


Mengharukan, bagaimana seorang jagoan berantem ternyata punya trauma yang begitu besar, dan masih mencari sosok ayah sebagai pelindungnya.


Bapak ini akhrinya naik ring untuk menghadapi Tae Wok. Sampe titik darah penghabisan, bapak ini akhirnya bisa memberikan pelajaran sekaligus memberikan hukuman setimpal bagi Tae Wok.


Dan akhirnya, Seung Sok (yang sebenernya udah lama pengen manggil si bapak dengan sebutan ’Daddy’) kesampean juga manggil bapak ini keras2


”Dadddddyyyyy!!!”

Lump of Sugar


Sewaktu di Korea, gue main2 ke sebuah mal yang ada bioskopnya. Meski ga nonton, tapi gue sempet melihat sebuah ’stage’ kosong dengan background poster film besar dan setting-nya sesuai dengan filmnya. Di stage itu kita boleh berfoto2.. maka, berfotolah gue, sandra, dan Yohan oppa dengan latar belakang poster film ini.

Begitu balik ke Jakarta, gue ketemu dengan dvd film itu dan langsung beli tanpa ragu2 (karena udah dibuat penasaran duluan... lumayan berhasil juga tuh promo dengan photo booth itu!)
Okay, judul film ini adalah Lump of Sugar.

Seorang cewe bernama Si-eun (Im Soo-jung) tumbuh besar bersama seekor kuda milik ibunya yang seorang jockey. Ibunya tewas dalam kecelakaan saat menunggangi kudanya. Si-eun juga turut membantu kuda ibunya itu pada saat melahirkan. Sayang, si ibu kuda tidak bertahan hidup. Anak kuda itu dinamai Cheondong (yang artinya halilintar). Si-eun dan Cheondong tumbuh bersama, dan menjadi sahabat. Ayah Si-eun khawatir anaknya (yang juga bermimpi menjadi seorang jockey) akan bernasib sama seperti istrinya, maka ia menjual Cheondong tanpa sepengetahuan Si-eun.

Si-eun perlahan mewujudkan impiannya menjadi seorang jockey. Ternyata menjadi jockey tidak mudah. Apalagi masih banyak orang yang menyangsikan kemampuan seorang jockey perempuan. Karir Si-eun tidak cemerlang sampai suatu saat ia bertemu kembali dengan Cheondong dan karirnya mulai meningkat bersama sahabat lamanya itu. Si-eun dan Cheondong berlatih dengan keras untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik.

Meski film ini mengambil tema yang cukup unik, tapi menurut gue, feel-nya kurang dapet. Mungkin karena dunia perkudaan tidak terlalu gue kenal jadi gue ga nge-klik dengan filmnya. Tapi, untuk sesuatu yang segar, boleh juga nonton Lump of Sugar ini.

halooo...

Selamat datang!

Akhirnya, gue memutuskan untuk membuat satu blog khusus untuk menjadi wadah hasrat gue untuk menulis review film. Yup! Sebagai penikmat film, pecinta Korea, gue seneng banget memberikan rekomendasi film2 atau serial drama dari Korea buat orang2 lain diluar sana yang juga merupakan penikmat film. Semoga review2 yang gue tulis di blog ini bisa menjadi sumber sebelum mulai menonton.
Jangan ragu2 kalo mau kasi comment, yaah...

Selamat membaca!

Cheers,
nnisa.